• Kamis, 8 Desember 2022

Dukung G20, Peneliti UPER Kelola Sampah Jadi Sumber Energi Organik

- Senin, 21 November 2022 | 11:04 WIB
Ilustrasi: Dosen Teknik Lingkungan UPER, Dr. Eng. Mega Mutiara Sari, S.T., M.Si., saat melakukan penelitian Estimation of Plastic Waste in Ocean, Indonesia, bersama peneliti Toyohashi University of Technology (2022).
Ilustrasi: Dosen Teknik Lingkungan UPER, Dr. Eng. Mega Mutiara Sari, S.T., M.Si., saat melakukan penelitian Estimation of Plastic Waste in Ocean, Indonesia, bersama peneliti Toyohashi University of Technology (2022).

BAACA.ID,-Permasalahan sampah terus menjadi perhatian dunia, terutama sampah plastik yang sulit didaur ulang. Melansir dari laman KLHK, total sampah di Indonesia bisa mencapai 18,2 juta ton per tahun. Bertepatan dengan dilaksanakannya KTT G20 di Bali, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengurangi produksi sampah sebesar 70 persen di tahun 2025. Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia telah berhasil mengurangi sampah sebesar 28,5 persen.

Untuk membantu Indonesia mencapai target pengurangan sampah, dosen sekaligus ahli lingkungan Universitas Pertamina, Dr. Eng., Mega Mutiara Sari, S.T., M.Si., melakukan penelitian terkait pemanfaatan limbah plastik menjadi sumber energi pellet RDF (refused derived fuel). Penelitian ini berhasil dipublikasikan di jurnal terakreditasi SINTA 2, Jurnal Bahan Alam Terbarukan.

“Penelitian ini kami lakukan di Kecamatan Nusa Penida, Bali. Sebagai wilayah pariwisata ternama di Indonesia, Bali memiliki permasalahan sampah yang cukup besar. Di Nusa Penida saat ini masih belum memiliki Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) sehingga sampah masih dibiarkan di TPA,” jelas Mega pada wawancara daring Senin (14/11).

Baca Juga: Rakernas Ampuh, sambut digitalisasi umrah, haji dan halal tour

Komposisi sampah di Kecamatan Nusa Penida, menurut Mega, didominasi oleh sampah organik, plastik, besi, dan masker dengan persentase sebesar 43,57 persen, 32,77 persen, 19,54 persen, dan 4,12 persen. Untuk dapat menghasilkan pellet RDF, sampah tersebut harus melalui proses homogenizer guna menghasilkan ukuran yang lebih kecil.

“Sampah yang sudah berhasil dikumpulkan akan dipisahkan berdasarkan jenisnya masing-masing. Kemudian akan dilakukan perhitungan kadar air dan nilai kalori pada sampah tersebut. Pellet RDF yang baik adalah yang memiliki kadar air rendah dan nilai kalori yang tinggi,” ungkap Mega.

Ia menambahkan, kadar air memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap proses pengeringan sampah. Semakin tinggi kadar air, akan memperlama proses pengeringan. Dari keempat jenis sampah, sampah plastik memiliki kadar air terkecil yakni 0,8% dan nilai kalori terbesar yakni 5.129 kcal/kg. Hal ini menjadikan sampah plastik memiliki kualitas pelet RDF yang lebih baik dibanding jenis sampah lainnya.

Baca Juga: Jokowi Bicara di Forum APEC, Ini Sektor Utama Pemulihan Ekonomi Global Menurutnya

Halaman:

Editor: Sasmita Siska Ayu Lestari

Sumber: rilis

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ternyata Begini Pola Hidup yang Sehat

Selasa, 11 Oktober 2022 | 05:00 WIB

Terpopuler

X