• Kamis, 8 Desember 2022

Mengenal Sejarah dan Panca Dasar PSHT

- Selasa, 27 September 2022 | 13:55 WIB
panca dasar psht
panca dasar psht

BAACA.ID - Saat ini, persaudaraan setia terate atau yang lebih dikenal dengan PSHT memiliki cabang di 200 kabupaten/kota di Indonesia. PSHT tak hanya sebuah perguruan pencak silat. PSHT adalah sebuah organisasi yang memiliki prinsip yang terangkum dalam panca dasar PSHT.

Perguruan silat ini bahkan merambah hingga ke luar negeri; Malaysia, Perancis, Jepang, Belgia, Rusia, Belanda, Hongkong, hingga Korea Selatan. Jumlah warga (sebutan untuk anggota PSHT) saat ini diklaim sudah mencapai 8 juta warga, termasuk warga yang ada di luar negeri. Untuk ukuran sebuah perguruan pencak silat, jumlah ini bukanlah angka yang kecil apalagi dengan simpul keterikatan yang kuat tak hanya dengan warga antar satu daerah yang sama tapi warga lain yang berada di luar Indonesia.

Baca Juga: Kaum Muslim Wajib Tahu! Berikut Syarat Sah Wudhu

PSHT tak ubahnya sebuah organisasi besar dengan satu tujuan yang sama. Rumah besar persaudaraan yang memiliki keinginan untuk mendidik sekaligus membentuk karakter manusia yang memiliki budi luhur. Selain itu, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan menanamkan kesetiaan terhadap hati dan sanubari dan mengutamakan rasa persaudaraan kepada anggota.

Kiprah PSHT terhadap dunia pencak silat di Indonesia pun tak sedikit. Perguruan ini menjadi 1 dari 10 perguruan silat yang memiliki andil terhadap berdirinya Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sebagai induk organisasi yang menaungi seluruh perguruan pencak silat di Indonesia.

Sejarah PSHT

Baca Juga: Cara Mengetahui Shio Berdasarkan Tanggal dan Tahun Lahir Anda

Ki Ageng Soero Dwiryo adalah pendiri PSHT. Perguruan ini didirikan tahun 1903 di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya. Ki Ageng Soero jugalah yang menciptakan dasar-dasar jurus di PSHT. Meski awalnya belum bernama Setia Hati tapi perguruan pencak silat Djojo Gendilo Tjipto Moeljo. Barulah pada 1917, Ki Ageng Soero Dwirjo mengubah namanya menjadi Persaudaraan Setia Hati di Desa Winongo, Madiun. Ketika itu, Belanda melarang apapun bentuk organisasi termasuk pencak silat, sehingga namanya masih berupa persaudaraan (kadang) antar murid.

Pemberian nama persaudaraan ini juga terdapat makna tersendiri. Ki Ageng Soero ingin PSHT menjadi sebuah wadah persaudaraan dalam bingkai nasionalisme Indonesia di tengah jajahan Belanda. Persaudaraan Setia Hati pun kian berkembang dan tahun 1922, Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang juga ‘kadang’ atau saudara Setia Hati meminta izin kepada Ki Ageng Soero Dwirjo untuk melatih generasi muda saat itu dengan nama Setia Hati Pemoeda Sport Club (SH PSC).

Halaman:

Editor: Zairini Fajrin

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KPK Pantau Investasi Telkomsel ke GOTO

Jumat, 2 Desember 2022 | 11:26 WIB

Terpopuler

X